Mengapa Begitu Banyak Department Store yang Tutup? Simak Ulasannya Berikut Ini!

Belum lama ini, ada begitu banyak departemen store mengumumkan menutup gerainya di beberapa lokasi. Mungkin Anda langsung bertanya, ada apa sebenarnya dengan para departemen store ini. Hingga banyak bermunculan spekulasi di kalangan pemerhati ekonomi. Lantas, apakah keberadaan departemen store ini hanya karena kalah saing dengan toko online? sebenarnya, tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan. Ada beberapa alasan mengapa banyak departemen store yang tutup.

Pertama, perubahan gaya hidup konsumsi. Sebenarnya, porsi ritel secara offline masih begitu besar jika kita bandingkan dengan ritel online, tetapi, harus diakui penjualan ritel mengalami penurunan dibandingkan 4 hingga 5 tahun yang lalu. Hal ini menyebabkan lesunya sektor ritel. Hal tersebut tidak lepas dari perubahan perilaku konsumen. Gaya hidup sekarang banyak mempengaruhi sektor ritel. Sesuai dengan karakter millennial yang lahir di tahun 1980 sampai 2000, mereka lebih memilih menahan belanja dan menggunakan waktu luang untuk kegiatan lain. Mereka lebih suka melakukan traveling, mengeksplor berbagai tempat wisata entah di dalam negeri atau pun di luar negeri, sehingga tak mengherankan jika kita menemukan banyak media sosial yang memamerkan foto berpergian atau pun sekedar menikmati makanan.

Kedua, adanya perubahan prioritas dan lebih memilih melakukan investasi. Perubahan prioritas generasi sekarang entah mau atau tidak mau memang ikut andil di dalam kelesuan ritel di Indonesia. selain lebih mengubah pola konsumsi untuk sekedar membeli barang ritel, mereka mempunyai skala prioritas di dalam hidup, adanya kesadaran investasi mulai merambah kehidupan millennial. Mereka menyadari tentang pentingnya investasi serta menempatkan dananya di berbagai instrumen investasi.

Ketiga, adanya pergeseran dari belanja ritel ke online. faktor lainnya mengenai penutupan gerai ritel diakui oleh pengusaha sebagai bentuk perkembangan jaman. Perubahan cara belanja memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perkembangan teknologi informasi sudah mendorong partikel secara online merubah gaya hidup seseorang dalam berbelanja. Walaupun diakui hingga sekarang kegiatan belanja online belum bisa menggeser belanja secara offline. Hal tersebut merujuk pada proporsi ritel 1,4% dari kapitalisasi offline. Ini artinya barang yang dibeli dengan cara online tidak ada separuhnya dibandingkan dengan offline. Namun, partikel tidak mengesampingkan potensi ritel online. perubahan gaya belanja konsumen memaksa ritel offline untuk mengubah strategi pemasaran.

Ternyata hal tersebut tidak hanya di Indonesia saja, banyak sekali negara-negara lain yang mengalaminya. Kondisi ekonomi memang tidak ada yang dapat memastikan bisa berjalan dengan stabil dan baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, dinamika ekonomi ini setidaknya dapat disikapi dengan berbagai macam inovasi serta membuka diri mengenai hal baru untuk menciptakan efisiensi serta menjaga eksistensi, sehingga partikel konvensional bisa terus bertahan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *